Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.
Dimana kita bertemu?
Musim hujan benar-benar
membuat semua orang memilih untuk bermalas-malasan dirumah. Bersembunyi dalam
selimut dan menikmati suasana dingin dengan hangatnya secangkir teh atau
sekedar duduk berkumpul bersama keluarga. Aku hanya bisa tersenyum tatkala
mengingat semuanya. Sadar bahwa kini aku harus bekerja keras untuk menyusul
kakak laki-lakiku di negara orang. Menyisipkan mimpi-mimpiku dalam peraihan
cita-cita dan impianku untuk menjadi mahasiswa ditempat kakakku bersekolah.
Aku bukanlah wanita
super dengan gen spesial, aku adalah aku. Gadis delapanbelas tahun yang
memiliki segunung impian dan cita-cita yang setinggi langit. Aku adalah aku,
gadis berkacamata yang menganggap dirinya nothing
special without someone special. Aku benar-benar gadis biasa.
Saat ini, aku tengah
duduk dengan secangkir teh hangat ditanganku. Menghadap sebuah jendela besar
disampingku dan menatap butiran air yang berjatuhan dengan indahnya. Mengapa
hujan bisa turun seindah ini? Apa dia tahu bahwa dirinya sangat indah? Alunan
music klasik lembut yang diputar disudut cafe membuat ku tersenyum dan hanyut
dalam lamunan.
Aku meminum sedikit demi
sedikit teh ku hingga cangkir itu benar-benar kosong. Cklik! Aku menoleh menatap suara bidikan itu. Seorang laki-laki
membidikan kameranya kearahku. Aku menatapnya tajam. Mengerutkan keningku,
mencoba mengirim sinyal kebingunganku padanya. Laki-laki itu tersenyum.
“Posemu sangat bagus. Sayang
sekali jika tidak diabadikan. Maaf kalau kau tersinggung. Aku bisa menghapusnya
sekarang.”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa. Ambil saja.”
“Terima kasih...”
katanya sebelum pergi.
Aku kembali terpaku pada
jendela di hadapanku. Mengintip hujan yang semakin riuh. Orang-orang
berlari-lari kecil menyelamatkan diri. Apa hujan menyakitkan? Kenapa semua
orang harus berlari bersembunyi dari hujan? Kecuali laki-laki itu. oh tidak,
dia adalah laki-laki yang beberapa menit yang lalu berada di hadapanku. Apa yang
dilakukan laki-laki itu sebenarnya?
Laki-laki itu
mengarahkan kameranya ke beberapa titik. Langit, hujan, jalanan yang basah, dan
yang terakhir adalah aku. Ia mengarahkan kembali kameranya ke arahku yang
berada di balik jendela lalu membidik. Aku hanya bisa diam tak berdaya,
terlebih-lebih terkejut. Apakah aku adalah objek yang menarik baginya?
Laki-laki itu berjalan mendekat ke arahku dan berhenti di hadapan ku. Hanya
kaca jendela besar yang memisahkan kami. Ia menulis sesuatu di jendela kaca
yang mengembun didepanku.
“Bila hujan tiba, maka dengarkan lah
dakwahnya. Dan, terima kasih atas fotonya.”
Ia membungkuk dan
berlalu sambil mengelap lensa kameranya. Kaki ku bergerak hendak mengejarnya.
Tapi hanya sebatas bergerak untuk berdiri saja, aku tidak pernah bisa mengejar
seorang laki-laki.
Siapa namanya?
Seharusnya aku menanyakannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar