Kamis, 21 Mei 2015

Hujan | Part 1 [Dimana Kita Bertemu?]



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.


Dimana kita bertemu?

Musim hujan benar-benar membuat semua orang memilih untuk bermalas-malasan dirumah. Bersembunyi dalam selimut dan menikmati suasana dingin dengan hangatnya secangkir teh atau sekedar duduk berkumpul bersama keluarga. Aku hanya bisa tersenyum tatkala mengingat semuanya. Sadar bahwa kini aku harus bekerja keras untuk menyusul kakak laki-lakiku di negara orang. Menyisipkan mimpi-mimpiku dalam peraihan cita-cita dan impianku untuk menjadi mahasiswa ditempat kakakku bersekolah.
Aku bukanlah wanita super dengan gen spesial, aku adalah aku. Gadis delapanbelas tahun yang memiliki segunung impian dan cita-cita yang setinggi langit. Aku adalah aku, gadis berkacamata yang menganggap dirinya nothing special without someone special. Aku benar-benar gadis biasa.
Saat ini, aku tengah duduk dengan secangkir teh hangat ditanganku. Menghadap sebuah jendela besar disampingku dan menatap butiran air yang berjatuhan dengan indahnya. Mengapa hujan bisa turun seindah ini? Apa dia tahu bahwa dirinya sangat indah? Alunan music klasik lembut yang diputar disudut cafe membuat ku tersenyum dan hanyut dalam lamunan.
Aku meminum sedikit demi sedikit teh ku hingga cangkir itu benar-benar kosong. Cklik! Aku menoleh menatap suara bidikan itu. Seorang laki-laki membidikan kameranya kearahku. Aku menatapnya tajam. Mengerutkan keningku, mencoba mengirim sinyal kebingunganku padanya. Laki-laki itu tersenyum.
“Posemu sangat bagus. Sayang sekali jika tidak diabadikan. Maaf kalau kau tersinggung. Aku bisa menghapusnya sekarang.”
Aku menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Ambil saja.”
“Terima kasih...” katanya sebelum pergi.
Aku kembali terpaku pada jendela di hadapanku. Mengintip hujan yang semakin riuh. Orang-orang berlari-lari kecil menyelamatkan diri. Apa hujan menyakitkan? Kenapa semua orang harus berlari bersembunyi dari hujan? Kecuali laki-laki itu. oh tidak, dia adalah laki-laki yang beberapa menit yang lalu berada di hadapanku. Apa yang dilakukan laki-laki itu sebenarnya?
Laki-laki itu mengarahkan kameranya ke beberapa titik. Langit, hujan, jalanan yang basah, dan yang terakhir adalah aku. Ia mengarahkan kembali kameranya ke arahku yang berada di balik jendela lalu membidik. Aku hanya bisa diam tak berdaya, terlebih-lebih terkejut. Apakah aku adalah objek yang menarik baginya? Laki-laki itu berjalan mendekat ke arahku dan berhenti di hadapan ku. Hanya kaca jendela besar yang memisahkan kami. Ia menulis sesuatu di jendela kaca yang mengembun didepanku.
“Bila hujan tiba, maka dengarkan lah dakwahnya. Dan, terima kasih atas fotonya.”
Ia membungkuk dan berlalu sambil mengelap lensa kameranya. Kaki ku bergerak hendak mengejarnya. Tapi hanya sebatas bergerak untuk berdiri saja, aku tidak pernah bisa mengejar seorang laki-laki.
Siapa namanya? Seharusnya aku menanyakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar