Sabtu, 23 Mei 2015

Hujan | Part 2 [Selamat Pagi Seoul!]



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya di Part 1 | Dimana Kita Bertemu?



Selamat pagi Seoul !



Angin berhembus. Dinginnya menggetarkan tulang belulang ku. Tapi langkah kakiku tak akan pernah goyah menuruni anak tangga pesawat. Inilah momen penting dalam hidupku. Setelah sekian lama belajar dengan giat untuk dapat mengikuti jejak kakak ku. Aku tersenyum begitu angin-angin nakal itu kembali menerpa wajahku. Merapatkan jaketku dan mulai berjalan memasuki Bandara Internasional Incheon.
Seorang laki-laki jangkung menarik perhatianku. Didepan wajahnya ada sebuah papan bertuliskan namaku. Aku mendekatinya dengan ragu. Laki-laki itu menurunkan papannya secara perlahan. Aku dapat melihat mata cokelatnya. Dia. Laki-laki itu punya mata yang sama dengan ku. Dia kakak ku. Kakak laki-laki ku yang sudah sekitar dua tahun tidak bertemu denganku.
Laki-laki itu menghampiriku dan meraih koper yang aku bawa. Ia merangkulku dan menggiringku menuju mobil tanpa berbicara apapun. Dia membuka pintu mobil untuk ku, memasukkan koper ke dalam bagasi, dan setelah itu siap di balik kemudi.
“Selamat datang di Seoul, Tan!” katanya padaku. Ia meraih sebuah kotak yang sepertinya sudah ia siapkan untuk ku. “Hadiah atas kelulusan mu.”
“Kakak, terima kasih.” Kataku seraya menerima kotak tersebut, lantas membukanya.
Isinya sebuah shal yang terlihat sangat hangat. Ia menatapku yang juga menatapnya.
Kakak tersenyum. Ia meraih shal tersebut dan melingkarkannya di leherku hingga menutupi sebagian wajahku.
“Seoul tengah berada di akhir musim gugur, akan dingin sekali.” Katanya.
Aku hanya tersenyum seperti biasa. Kakak juga turut tersenyum melihatku. “Sekarang Tan kakak sudah besar ya? Sudah cantik, sudah dewasa, bahkan tidak mau merengek lagi pada kakaknya.”
Aku hanya bisa nyengir melihat kakakku yang juga semakin tampan. Dia meraih kemudi dengan mantap dan menatapku dengan mantap pula. “Kita mau kemana tuan putri?” tanyanya.
Apa? Bukankah kita? Jangan-jangan ini salah satu rangkaian hadiah yang lainnya dari kakak?
“Ini hadiah karena kau sudah diterima di Yonsei University.” Katanya membuat ku tersenyum lebar.
“Namsan!” jawabku.
“Terbaik untuk adikku!”
Orang-orang berjalan dengan cepat, seolah tak ingin kehilangan waktunya barang sedetikpun. Pohon-pohon ditepi jalan juga banyak yang menggundul. Pernak-pernik musim dingin sudah mulai dipajang disepanjang etalase pertokoan dipinggir jalan. Aku membuka jendela mobil. Mengeluarkan tangan dan kepalaku. Merasakan terpaan dingin angin musim dingin. Aku tidak peduli bila esok aku akan masuk angin atau menggigil. Semuanya akan baik-baik saja selama ada kakak.
“Aku datang Seoul!!” teriak ku. Orang-orang menatapku aneh. Melihatku bak orang gila.
Kakak gelagapan, menyetir sambil menarik tubuhku untuk masuk kedalam mobil. Aku tidak peduli. Aku senang. Aku bahagia. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang membuatku segera memasukan tubuhku dan mencengkeram lengan kakak. Kakak terkejut dan menepikan mobil.
“Ada apa?”
Aku membuka pintu mobil dan berlari mengejar sosok yang aku lihat tadi. Laki-laki itu mengenakan jaket biru dan membersihkan lensa kameranya sambil lalu. Aku jelas-jelas melihatnya. Tapi kakak segera menghentikan ku dan menarik ku kembali ke mobil.
“Aku melihat orang yang aku kenal.” Kataku kaku.
Kakak tersenyum. “Kau bercanda? Ini bukan Indonesia. Mungkin kau hanya berhalusinasi.”
Benar. Ini bukan Indonesia. Mungkin aku salah mengenali orang. Itu saja. Kita hanya bertemu sekali dan mana mungkin aku dapat mengenalinya seolah kita sudah sering bertemu. Setelah itu aku hanya diam. Banyak pikiran dan pemahaman yang berputar di kepalaku. Aku hanya gadis biasa yang menyimpan cinta dalam hatinya. Ya, cinta. Cinta pertama. Cinta yang maya. Cinta yang tidak nyata.
“Tan, sudah sampai.” Aku terkejut begitu kakak membukakan sabuk pengamanku dan menarikku keluar dari mobil. Wajahku mungkin saja kusut.
“Aku jelas-jelas melihatnya.” Kataku masih bersikukuh.
Kakak menghembuskan napas beratnya. “Begitukah? Kalau begitu kita pulang saja.”
Aku menahan lengan kakak. “Ani.” Aku tersenyum dan berlari menaiki bukit namsan.
Udara di atas tower ini benar-benar dingin. Aku bergidik ketika angin berulang-ulang menerpa wajahku. Orang-orang tetap bersikukuh dengan kegiatan mereka, memasang gembok bersama pasangannya. Berharap sesuatu yang indah terjadi dalam setiap hubungan yang mereka jalin bersama terpasangnya anak gembok itu. aku menatap kakak bingung. Dia hanya mengendikan bahunya. Aku tertawa dan kembali menatap langit pagi Seoul yang nampak cerah walaupun dingin.
Burung-burung berterbangan seolah tengah berimigrasi menghindari musim dingin. Pohon-pohon maple memerah merontokan daunnya. Aku menghirup udara dinging sedalam-dalamnya. Menahan semua kelelahanku dalam hati. Mencoba melenyapkan bayangan laki-laki yang dua bulan lalu aku temui. Menepis pikiran rindu kepada teman-temanku.
“Selamat pagi Seoul!!!!” teriakku.
Orang-orang menatapku bingung. Terlebih-lebih dengan bahasa yang aku lontarkan. Kakak menepuk bahuku pelan sambil berbisik.
“Annyeonghaseyo Tan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar