Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.
Baca cerita sebelumnya di Part 1 | Dimana Kita Bertemu?
Selamat pagi Seoul !
Angin berhembus.
Dinginnya menggetarkan tulang belulang ku. Tapi langkah kakiku tak akan pernah
goyah menuruni anak tangga pesawat. Inilah momen penting dalam hidupku. Setelah
sekian lama belajar dengan giat untuk dapat mengikuti jejak kakak ku. Aku
tersenyum begitu angin-angin nakal itu kembali menerpa wajahku. Merapatkan
jaketku dan mulai berjalan memasuki Bandara Internasional Incheon.
Seorang laki-laki
jangkung menarik perhatianku. Didepan wajahnya ada sebuah papan bertuliskan
namaku. Aku mendekatinya dengan ragu. Laki-laki itu menurunkan papannya secara
perlahan. Aku dapat melihat mata cokelatnya. Dia. Laki-laki itu punya mata yang
sama dengan ku. Dia kakak ku. Kakak laki-laki ku yang sudah sekitar dua tahun
tidak bertemu denganku.
Laki-laki itu
menghampiriku dan meraih koper yang aku bawa. Ia merangkulku dan menggiringku
menuju mobil tanpa berbicara apapun. Dia membuka pintu mobil untuk ku, memasukkan
koper ke dalam bagasi, dan setelah itu siap di balik kemudi.
“Selamat datang di
Seoul, Tan!” katanya padaku. Ia meraih sebuah kotak yang sepertinya sudah ia
siapkan untuk ku. “Hadiah atas kelulusan mu.”
“Kakak, terima kasih.”
Kataku seraya menerima kotak tersebut, lantas membukanya.
Isinya sebuah shal yang
terlihat sangat hangat. Ia menatapku yang juga menatapnya.
Kakak tersenyum. Ia
meraih shal tersebut dan melingkarkannya di leherku hingga menutupi sebagian
wajahku.
“Seoul tengah berada di
akhir musim gugur, akan dingin sekali.” Katanya.
Aku hanya tersenyum
seperti biasa. Kakak juga turut tersenyum melihatku. “Sekarang Tan kakak sudah
besar ya? Sudah cantik, sudah dewasa, bahkan tidak mau merengek lagi pada
kakaknya.”
Aku hanya bisa nyengir
melihat kakakku yang juga semakin tampan. Dia meraih kemudi dengan mantap dan
menatapku dengan mantap pula. “Kita mau kemana tuan putri?” tanyanya.
Apa? Bukankah kita?
Jangan-jangan ini salah satu rangkaian hadiah yang lainnya dari kakak?
“Ini hadiah karena kau
sudah diterima di Yonsei University.” Katanya membuat ku tersenyum lebar.
“Namsan!” jawabku.
“Terbaik untuk adikku!”
Orang-orang berjalan
dengan cepat, seolah tak ingin kehilangan waktunya barang sedetikpun.
Pohon-pohon ditepi jalan juga banyak yang menggundul. Pernak-pernik musim
dingin sudah mulai dipajang disepanjang etalase pertokoan dipinggir jalan. Aku
membuka jendela mobil. Mengeluarkan tangan dan kepalaku. Merasakan terpaan
dingin angin musim dingin. Aku tidak peduli bila esok aku akan masuk angin atau
menggigil. Semuanya akan baik-baik saja selama ada kakak.
“Aku datang Seoul!!”
teriak ku. Orang-orang menatapku aneh. Melihatku bak orang gila.
Kakak gelagapan,
menyetir sambil menarik tubuhku untuk masuk kedalam mobil. Aku tidak peduli.
Aku senang. Aku bahagia. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang membuatku segera
memasukan tubuhku dan mencengkeram lengan kakak. Kakak terkejut dan menepikan
mobil.
“Ada apa?”
Aku membuka pintu mobil
dan berlari mengejar sosok yang aku lihat tadi. Laki-laki itu mengenakan jaket
biru dan membersihkan lensa kameranya sambil lalu. Aku jelas-jelas melihatnya.
Tapi kakak segera menghentikan ku dan menarik ku kembali ke mobil.
“Aku melihat orang yang
aku kenal.” Kataku kaku.
Kakak tersenyum. “Kau
bercanda? Ini bukan Indonesia. Mungkin kau hanya berhalusinasi.”
Benar. Ini bukan
Indonesia. Mungkin aku salah mengenali orang. Itu saja. Kita hanya bertemu
sekali dan mana mungkin aku dapat mengenalinya seolah kita sudah sering
bertemu. Setelah itu aku hanya diam. Banyak pikiran dan pemahaman yang berputar
di kepalaku. Aku hanya gadis biasa yang menyimpan cinta dalam hatinya. Ya,
cinta. Cinta pertama. Cinta yang maya. Cinta yang tidak nyata.
“Tan, sudah sampai.” Aku
terkejut begitu kakak membukakan sabuk pengamanku dan menarikku keluar dari
mobil. Wajahku mungkin saja kusut.
“Aku jelas-jelas
melihatnya.” Kataku masih bersikukuh.
Kakak menghembuskan
napas beratnya. “Begitukah? Kalau begitu kita pulang saja.”
Aku menahan lengan
kakak. “Ani.” Aku tersenyum dan berlari menaiki bukit namsan.
Udara di atas tower ini
benar-benar dingin. Aku bergidik ketika angin berulang-ulang menerpa wajahku.
Orang-orang tetap bersikukuh dengan kegiatan mereka, memasang gembok bersama
pasangannya. Berharap sesuatu yang indah terjadi dalam setiap hubungan yang mereka
jalin bersama terpasangnya anak gembok itu. aku menatap kakak bingung. Dia
hanya mengendikan bahunya. Aku tertawa dan kembali menatap langit pagi Seoul
yang nampak cerah walaupun dingin.
Burung-burung
berterbangan seolah tengah berimigrasi menghindari musim dingin. Pohon-pohon
maple memerah merontokan daunnya. Aku menghirup udara dinging sedalam-dalamnya.
Menahan semua kelelahanku dalam hati. Mencoba melenyapkan bayangan laki-laki
yang dua bulan lalu aku temui. Menepis pikiran rindu kepada teman-temanku.
“Selamat pagi Seoul!!!!”
teriakku.
Orang-orang menatapku
bingung. Terlebih-lebih dengan bahasa yang aku lontarkan. Kakak menepuk bahuku
pelan sambil berbisik.
“Annyeonghaseyo Tan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar