Rabu, 24 Juni 2015
Dunia Menulis
Menulis, bagi saya menulis itu adalah sebagian hoby menarik selain membaca. Entah, apa indahnya. Menulis membuat saya benar-benar mengerti dan paham bagaimana diri saya. Ketika pucuk pena menggoreskan tintanya, disana lah sebuah kata tercipta. Saya bukanlah seorang penulis handal seperti author novel favorite saya. Saya hanya gadis biasa yang mencintai dunia saya. Dunia-dunia yang mungkin sudah dianggap tabu bagi sebagian anak remaja. Tenang saja, saya juga remaja masa kini. Tapi setidaknya, saya tidak terlalu menyukai fashion dan belanja.
Kembali kepada menulis, kata yang tertulis dan terlisan tidak lah sama. Kadang, kita perlu intrik dalam melukiskan sebuah kata. Pemilihan kata yang tepat misalnya. Mungkin sulit, bagaimana menuangkan lisan dalam ukiran pena, tapi itulah asiknya. Seperti sungai. Menulis bagi saya tidak dapat dipaksa. Menulis itu mengalir. Ketika sebuah ide menulis datang, disaat itu juga sebuah keinginan menelisik. Saya ingin menulis. Ingin mengenang.
Terjadi. Hoby menulis saya sudah tercium sejak kelas tiga sekolah dasar. Saat itu, saya sangat pandai dalam merangkai cerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan satu lagi, kebiasaan mengharukan saya. Setelah menulis sesuatu, saya pasti akan membacanya. Entah kapan. Dan saat itulah, sebuah ide-ide kembali menggelayuti pikiran saya. Maka, ketika menginjak kelas lima. Ide-ide itupun tertuang sempurna dalam sebuah buku tulis. Sebuah karya sederhana berbentuk cerpen yang saya tulis sendiri dengan tangan. Saya masih terlalu kecil untuk meminta sebuah komputer ataupun laptop. Ya, itu jaman yang berbeda dengan jaman sekarang dimana laptop merupakan benda prioritas utama. Tapi, semuanya akan baik-baik saja dan tidak masalah selama saya memiliki tangan pada masa itu. Ide-ide itu pun semakin gila. Tatkala banyak buku tulis saya yang menjadi wadah berkarya banyak menuai pujian dari teman-teman. Mereka membaca karya-karya saya layaknya sebuah novel bersampul cantik. Nyatanya, itu hanya sebuah buku tulis anak sekolah dasar. Mereka mendorong saya untuk menulis lebih banyak lagi. Dan dari situlah, buku-buku tulis saya beralih profesi.
Menginjak sekolah menengah pertama, hoby itu pun semakin membara. Orang tua memberikan sebuah hadiah notebook karena saya lulus dan masuk kesekolah bergengsi. Alhamdulillah, semuanya perlu disyukuri. Tapi bukan itu yang saya maksudkan. Melainkan, semenjak datang notebook itu datang kegiatan tulis menulis saya semakin lancar. Saya tidak perlu lagi menyakiti diri sendiri dengan memaksa tangan kecil saya menulis. Ya, hal itu sangat tidak efisien. Berapa banyak buku yang harus saya relakan? Berapa banyak bolpoin yang saya habiskan? Bagaimana kalau tulisan itu harus direvisi ulang dan ada konsonan yang salah? Wah, benar-benar memusingkan bukan? Well, masa-masa inilah yang menurut saya sangat menggairahkan. Selepas saya kelas depalan, sudah ada bekisar tiga puluh lima cerita pendek di notebook saya. Dari berbagai judul dan genre.
Berbicara genre dan gaya bahasa. Dulu, gaya bahasa yang saya gunakan adalah gaya bahasa remaja kekinian, Lo Gue End. Dan, genre-genre nya pun masih berbau teenlit. Baru semenjak saya berada di sekolah menengah atas lah saya berani berganti genre dari teenlit menuju metropop, yang dari segi bahasanya pun semakin mendalam. Kadang pun banyak menuai kesulitan dalam penentuan kata. Dan pada masa ini pula saya berani memposting karya-karya saya dalam bentuk fanfiction yang saya titipkan di blog fanfiction yang sering saya kunjungi. Hingga akhirnya, saya pun memberanikan diri pula untuk mempostingnya di blog dan wordpress pribadi saya.
Bukan tantangan namanya jika tidak ada kendalanya. Dalam menulis, dimanapun, kapanpun, siapapun, pasti pernah mengalami yang namanya salah mengeja atau yang sering kita sebut dengan typo. Haduh, itu adalah sesuatu yang sangat sering saya lakukan.
Mungkin ini bisa saja membuat kalian terinspirasi dan ingin menjejalkan diri dalam dunia yang sama dengan saya. Apabila sebaliknya, saya meminta maaf dengan seluruh kekurangan saya. Saya hanya manusia biasa. Kesempurnaan hanya milik Zat yang menciptakan saya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar