Jumat, 29 Mei 2015

Hujan | Part 3 [Payung Biru Kami]



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya di 
Part 1 | Dimana Kita Bertemu?
Part 2 | Selamat Pagi Seoul!



Payung biru kami

Udara sangat dingin, membuatku nyaris tak dapat bangun dari tempat tidur hangat ku. Aku mendengar suara derap kaki mendekat. Disusul dengan suara ketukan pintu tidak sabar. Aku tetap tidak bergeming. Membiarkan ketukan itu lama-lama menjadi gubrakan kecil.
“Yakk, Tan bangun. Kau tidak mau kuliah? Kau tidak mau? Baiklah, aku akan pergi dulu.”
Aku terkejut begitu suara langkah kaki kembali terdengar. “Annnddwaaeee...” teriakku.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di ruang makan menemui kakak yang sudah bersiap-siap ingin berangkat. Aku baru saja selesai mandi dan berkemas. Kaka menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Ayo..” katanya.
Kami tinggal di flat milik orang tuaku. Flat sederhana yang tidak mewah dan tidak juga terlalu buruk untuk ditinggali kami berdua. Dengan dua kamar serta perabot klasik yang sangat memadai. Ditambah seorang asisten rumah tangga. Itu saja cukup membuat kakak ku bertahan lama di negara orang ini.
Kakak tengah menyelesai kan tesis nya, dan aku baru saja mulai mengarungi masa universitas ku. Ibuku seorang pegawai negeri sipil, sedangkan ayahku adalah seorang diplomat. Kakak juga tengah belajar tentang Hubungan Internasional dan kelak akan menjadi Duta Besar di KBRI Busan. Kakak memang pintar, berbeda sedikit denganku yang sangat membenci hal-hal berbau logaritma dan angka-angka sulit. Itulah mengapa aku memilih belajar post modern music. Meski begitu, aku tetap saja anak remaja biasa yang kadang juga menjadi emosi tanpa ada sebab-akibat. Mereka menyebutnya, labil.
Mobil kakak memasuki area Yonsei University. Dari sini aku dapat melihat begitu banyak mahasiswa bertebaran di segala penjuru. Kakak membukakan pintu mobilku. Aku turun dan menggendong tas ranselku yang sedikit berat.
“Namamu Tan. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu. Arra?” kata kakak sembari memberiku sebuah buku panduan seputar universitas besar ini.
Aku mengangguk sebelum masuk lebih jauh untuk menelisik seluruh penjuru gedung universitas.  Kakak tersenyum dan berjalan menuju kelasnya. Aku membaca-baca sekilas buku panduan itu. Ada tempat yang menarik perhatianku. Tempat yang menurutku sangat nyaman. Aku tak sabar ingin segera mencapainya.
Aku kembali menelusuri koridor-koridor yang cukup remang untuk pagi hari yang cerah seperti ini. Menaiki anak tangga menuju lantai teratas gedung. Gedung ini memang terbilang lumayan sepi jika di bandingkan dengan gedung yang lainnya. Belum sampai di anak tangga paling atas, aku menghentikan langkahku. Suara petikan gitar membuatku tercengang. Perlahan aku membuka pintu di penghujung tangga. Seorang laki-laki duduk membelakangiku dengan gitarnya. Disekitarnya ada jaket dan sebuah tas punggung tempat kamera. Aku menatap punggung laki-laki itu. Seperti ada sesuatu yang terjadi.
“naui sarangbiga doeeojullae? Sesang eodirado hamkkehallae?”
Deg! Suara itu. Aku seperti terkena serangan mendadak. Suara itu. Lagu itu.
Aku terus menatapnya tanpa berkedip. Mendengarkan alunan kata-kata indah yang ia nyanyikan. Suara beratnya membuatku tenang. Jantungku perlahan berdetak dengan normal. Langitpun mendadak memuntahkan airnya. Seolah melengkapi semua hal yang terjadi saat ini. Laki-laki itu tidak bergeming. Ia tetap diam ditempatnya, tetap memetik senar gitarnya, tetap bernyanyi. Seolah-olah hujan merupakan perkusi yang melengkapi nyanyiannya. Seolah-olah hujan akan membuatnya terlihat lebih tampan. Seolah-olah hujan dapat menghapus semua masalahnya. Seolah-olah hujan dapat mengenyahkannya. Seolah-olah hujan adalah satu-satunya teman baginya.
Aku tertegun melihatnya. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk laki-laki yang bahkan wajahnya saja aku tidak dapat melihatnya. Tapi ada satu yang mungkin bisa aku beri padanya. Aku merogoh tas ku. Mengambil sesuatu yang mungkin dapat melindunginya. Aku membuka payung biruku dan meletakkan di depan pintu sebelum aku pergi.
“Would you be my love rain? Would you be with me anywhere in the world?”
***
Aku berlari-lari kecil melewati koridor. Hari mulai beranjak menuju kegelapan. Matahari sudah di ufuk barat. Tapi aku masih berkeliaran di kampus. Buku sketsa ku tertinggal di kelas menggambar sore tadi. Aku berhasil menemukannya di tempat semula. Tidak ada yang berubah dengan bukuku. Aku kembali membukanya dan tersenyum begitu melihat sketsa punggung seseorang yang tengah bermain gitar ditengah hujan.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu tidak sabar. Seorang gadis menyeruak masuk dengan tergesa-gesa dan terkejut begitu melihatku.
“Ah, maaf. Aku hanya ingin mengembalikan ini.” Kata gadis itu tergagap.
Aku melihat apa yang di bawanya. Sebuah payung biru persis seperti milikku. Aku tertegun. Sedikit kecewa. Kenapa payung yang sengaja aku pinjamkan kepada laki-laki itu kini berada ditangan gadis lain?
“Aku dengar pemiliknya berada di kelas ini. Jadi aku ingin mengembalikannya.”
Aku menutup buku sketsa ku dan beranjak pergi. Gadis itu menatapku ketakutan, terlebih-lebih bungun akan sikapku. Aku tidak pernah peduli bagaimana orang lain menilaiku. Mereka hanya melihatku dari luar. Mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana diriku sebenarnya.
Aku berjalan gontai menuruni anak tangga. Berjalan menuju lapangan basket. Hari ini aku ingin mengerjakan tugas sketsaku dan mengambil basket sebagai modelnya. Lapangan sudah gelap. Udara pun semakin dingin. Lampu-lampu taman mulai menyala dengan indah. Menerangi lapangan walau nampak remang. Aku duduk disudut lapangan, bersandar pada sebuah tiang lampu jalan. Aku mulai mengeluarkan pensilku. Tanganku mulai membuat garis-garis halus. Hening.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mendrible bola. Aku bergeming, menyibak rambut yang menghalangi penglihatanku. Sosok itu semakin mendekat. Ia berlari dan melakukan shoot. Bolanya masuk. Ia melakukan hal yang sama berulang kali tanpa menyadari kehadiranku. Tanganku terpacu untuk membuat siluwet tentang laki-laki itu. Tanganku bergerak dengan sendirinya, seolah hatiku lah yang memerintahkannya. Sayang sekali keadaan disini cukup remang, aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Aku sudah menyelesaikan sketsaku. Sekarang yang aku lakukan hanya mengamati laki-laki itu. Ia berjalan menuju kursi penonton dalam kondisi membelakangiku. Baru saat itu aku tersadar bahwa dia adalah laki-laki yang tadi pagi aku temui. Laki-laki pemilik suara indah.
Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah payung berwarna biru yang sama dengan milikku. Ia membukanya. Padahal malam ini tidak hujan dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Ia melihat sesuatu di gagang payung itu dengan seksama. Astaga. Apa itu payungku? Aku mengingatnya. Di gagang payungku terdapat ukiran namaku. Kakak lah yang mengukirnya untukku. Lalu bagaimana dengan payung yang dibawa gadis tadi?
Aku bergegas merapikan semua peralatan sketsaku, menaruhnya dalam tas. Aku berlari menuju kelas melewati laki-laki itu. Bisa kupastikan bahwa sekarang dia menatapku terkejut sambil kebingungan. Aku masuk kedalam kelas dengan tidak sabar. Meraih payung biru yang terdampar di meja dengan cekatan. Membukanya dan melihat gagangnya. Rain. Benar, payung ini bukan milikku.
“Itu milikku.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar