Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.
Baca cerita sebelumnya di
Part 1 | Dimana Kita Bertemu?
Part 2 | Selamat Pagi Seoul!
Payung biru kami
Udara sangat dingin,
membuatku nyaris tak dapat bangun dari tempat tidur hangat ku. Aku mendengar
suara derap kaki mendekat. Disusul dengan suara ketukan pintu tidak sabar. Aku
tetap tidak bergeming. Membiarkan ketukan itu lama-lama menjadi gubrakan kecil.
“Yakk, Tan bangun. Kau
tidak mau kuliah? Kau tidak mau? Baiklah, aku akan pergi dulu.”
Aku terkejut begitu
suara langkah kaki kembali terdengar. “Annnddwaaeee...” teriakku.
Tak butuh waktu lama
bagiku untuk sampai di ruang makan menemui kakak yang sudah bersiap-siap ingin
berangkat. Aku baru saja selesai mandi dan berkemas. Kaka menatapku dari ujung
kepala sampai ujung kaki.
“Ayo..” katanya.
Kami tinggal di flat
milik orang tuaku. Flat sederhana yang tidak mewah dan tidak juga terlalu buruk
untuk ditinggali kami berdua. Dengan dua kamar serta perabot klasik yang sangat
memadai. Ditambah seorang asisten rumah tangga. Itu saja cukup membuat kakak ku
bertahan lama di negara orang ini.
Kakak tengah menyelesai
kan tesis nya, dan aku baru saja mulai mengarungi masa universitas ku. Ibuku
seorang pegawai negeri sipil, sedangkan ayahku adalah seorang diplomat. Kakak
juga tengah belajar tentang Hubungan Internasional dan kelak akan menjadi Duta
Besar di KBRI Busan. Kakak memang pintar, berbeda sedikit denganku yang sangat
membenci hal-hal berbau logaritma dan angka-angka sulit. Itulah mengapa aku
memilih belajar post modern music. Meski begitu, aku tetap saja anak remaja
biasa yang kadang juga menjadi emosi tanpa ada sebab-akibat. Mereka
menyebutnya, labil.
Mobil kakak memasuki
area Yonsei University. Dari sini aku dapat melihat begitu banyak mahasiswa
bertebaran di segala penjuru. Kakak membukakan pintu mobilku. Aku turun dan
menggendong tas ranselku yang sedikit berat.
“Namamu Tan. Hubungi aku
jika kau butuh sesuatu. Arra?” kata kakak sembari memberiku sebuah buku panduan
seputar universitas besar ini.
Aku mengangguk sebelum
masuk lebih jauh untuk menelisik seluruh penjuru gedung universitas. Kakak tersenyum dan berjalan menuju kelasnya.
Aku membaca-baca sekilas buku panduan itu. Ada tempat yang menarik perhatianku.
Tempat yang menurutku sangat nyaman. Aku tak sabar ingin segera mencapainya.
Aku kembali menelusuri
koridor-koridor yang cukup remang untuk pagi hari yang cerah seperti ini.
Menaiki anak tangga menuju lantai teratas gedung. Gedung ini memang terbilang lumayan
sepi jika di bandingkan dengan gedung yang lainnya. Belum sampai di anak tangga
paling atas, aku menghentikan langkahku. Suara petikan gitar membuatku
tercengang. Perlahan aku membuka pintu di penghujung tangga. Seorang laki-laki
duduk membelakangiku dengan gitarnya. Disekitarnya ada jaket dan sebuah tas
punggung tempat kamera. Aku menatap punggung laki-laki itu. Seperti ada sesuatu
yang terjadi.
“naui sarangbiga doeeojullae? Sesang
eodirado hamkkehallae?”
Deg! Suara itu. Aku
seperti terkena serangan mendadak. Suara itu. Lagu itu.
Aku terus menatapnya
tanpa berkedip. Mendengarkan alunan kata-kata indah yang ia nyanyikan. Suara
beratnya membuatku tenang. Jantungku perlahan berdetak dengan normal. Langitpun
mendadak memuntahkan airnya. Seolah melengkapi semua hal yang terjadi saat ini.
Laki-laki itu tidak bergeming. Ia tetap diam ditempatnya, tetap memetik senar
gitarnya, tetap bernyanyi. Seolah-olah hujan merupakan perkusi yang melengkapi
nyanyiannya. Seolah-olah hujan akan membuatnya terlihat lebih tampan.
Seolah-olah hujan dapat menghapus semua masalahnya. Seolah-olah hujan dapat
mengenyahkannya. Seolah-olah hujan adalah satu-satunya teman baginya.
Aku tertegun melihatnya.
Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk laki-laki yang bahkan wajahnya saja aku
tidak dapat melihatnya. Tapi ada satu yang mungkin bisa aku beri padanya. Aku
merogoh tas ku. Mengambil sesuatu yang mungkin dapat melindunginya. Aku membuka
payung biruku dan meletakkan di depan pintu sebelum aku pergi.
“Would you be my love rain? Would you
be with me anywhere in the world?”
***
Aku berlari-lari kecil
melewati koridor. Hari mulai beranjak menuju kegelapan. Matahari sudah di ufuk
barat. Tapi aku masih berkeliaran di kampus. Buku sketsa ku tertinggal di kelas
menggambar sore tadi. Aku berhasil menemukannya di tempat semula. Tidak ada
yang berubah dengan bukuku. Aku kembali membukanya dan tersenyum begitu melihat
sketsa punggung seseorang yang tengah bermain gitar ditengah hujan.
Tiba-tiba seseorang
membuka pintu tidak sabar. Seorang gadis menyeruak masuk dengan tergesa-gesa
dan terkejut begitu melihatku.
“Ah, maaf. Aku hanya
ingin mengembalikan ini.” Kata gadis itu tergagap.
Aku melihat apa yang di
bawanya. Sebuah payung biru persis seperti milikku. Aku tertegun. Sedikit
kecewa. Kenapa payung yang sengaja aku pinjamkan kepada laki-laki itu kini
berada ditangan gadis lain?
“Aku dengar pemiliknya
berada di kelas ini. Jadi aku ingin mengembalikannya.”
Aku menutup buku sketsa
ku dan beranjak pergi. Gadis itu menatapku ketakutan, terlebih-lebih bungun
akan sikapku. Aku tidak pernah peduli bagaimana orang lain menilaiku. Mereka
hanya melihatku dari luar. Mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana diriku
sebenarnya.
Aku berjalan gontai
menuruni anak tangga. Berjalan menuju lapangan basket. Hari ini aku ingin
mengerjakan tugas sketsaku dan mengambil basket sebagai modelnya. Lapangan
sudah gelap. Udara pun semakin dingin. Lampu-lampu taman mulai menyala dengan
indah. Menerangi lapangan walau nampak remang. Aku duduk disudut lapangan,
bersandar pada sebuah tiang lampu jalan. Aku mulai mengeluarkan pensilku.
Tanganku mulai membuat garis-garis halus. Hening.
Tiba-tiba terdengar
suara seseorang mendrible bola. Aku
bergeming, menyibak rambut yang menghalangi penglihatanku. Sosok itu semakin
mendekat. Ia berlari dan melakukan shoot.
Bolanya masuk. Ia melakukan hal yang sama berulang kali tanpa menyadari
kehadiranku. Tanganku terpacu untuk membuat siluwet tentang laki-laki itu.
Tanganku bergerak dengan sendirinya, seolah hatiku lah yang memerintahkannya. Sayang
sekali keadaan disini cukup remang, aku tidak dapat melihat wajahnya dengan
jelas.
Aku sudah menyelesaikan
sketsaku. Sekarang yang aku lakukan hanya mengamati laki-laki itu. Ia berjalan
menuju kursi penonton dalam kondisi membelakangiku. Baru saat itu aku tersadar
bahwa dia adalah laki-laki yang tadi pagi aku temui. Laki-laki pemilik suara
indah.
Laki-laki itu
mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah payung berwarna biru yang sama dengan
milikku. Ia membukanya. Padahal malam ini tidak hujan dan tidak ada tanda-tanda
akan turun hujan. Ia melihat sesuatu di gagang payung itu dengan seksama.
Astaga. Apa itu payungku? Aku mengingatnya. Di gagang payungku terdapat ukiran
namaku. Kakak lah yang mengukirnya untukku. Lalu bagaimana dengan payung yang
dibawa gadis tadi?
Aku bergegas merapikan
semua peralatan sketsaku, menaruhnya dalam tas. Aku berlari menuju kelas
melewati laki-laki itu. Bisa kupastikan bahwa sekarang dia menatapku terkejut
sambil kebingungan. Aku masuk kedalam kelas dengan tidak sabar. Meraih payung
biru yang terdampar di meja dengan cekatan. Membukanya dan melihat gagangnya. Rain. Benar, payung ini bukan milikku.
“Itu milikku.”



