Rabu, 24 Juni 2015

Dunia Menulis


Menulis, bagi saya menulis itu adalah sebagian hoby menarik selain membaca. Entah, apa indahnya. Menulis membuat saya benar-benar mengerti dan paham bagaimana diri saya. Ketika pucuk pena menggoreskan tintanya, disana lah sebuah kata tercipta. Saya bukanlah seorang penulis handal seperti author novel favorite saya. Saya hanya gadis biasa yang mencintai dunia saya. Dunia-dunia yang mungkin sudah dianggap tabu bagi sebagian anak remaja. Tenang saja, saya juga remaja masa kini. Tapi setidaknya, saya tidak terlalu menyukai fashion dan belanja.

Kembali kepada menulis, kata yang tertulis dan terlisan tidak lah sama. Kadang, kita perlu intrik dalam melukiskan sebuah kata. Pemilihan kata yang tepat misalnya. Mungkin sulit, bagaimana menuangkan lisan dalam ukiran pena, tapi itulah asiknya. Seperti sungai. Menulis bagi saya tidak dapat dipaksa. Menulis itu mengalir. Ketika sebuah ide menulis datang, disaat itu juga sebuah keinginan menelisik. Saya ingin menulis. Ingin mengenang.

Terjadi. Hoby menulis saya sudah tercium sejak kelas tiga sekolah dasar. Saat itu, saya sangat pandai dalam merangkai cerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan satu lagi, kebiasaan mengharukan saya. Setelah menulis sesuatu, saya pasti akan membacanya. Entah kapan. Dan saat itulah, sebuah ide-ide kembali menggelayuti pikiran saya. Maka, ketika menginjak kelas lima. Ide-ide itupun tertuang sempurna dalam sebuah buku tulis. Sebuah karya sederhana berbentuk cerpen yang saya tulis sendiri dengan tangan. Saya masih terlalu kecil untuk meminta sebuah komputer ataupun laptop. Ya, itu jaman yang berbeda dengan jaman sekarang dimana laptop merupakan benda prioritas utama. Tapi, semuanya akan baik-baik saja dan tidak masalah selama saya memiliki tangan pada masa itu. Ide-ide itu pun semakin gila. Tatkala banyak buku tulis saya yang menjadi wadah berkarya banyak menuai pujian dari teman-teman. Mereka membaca karya-karya saya layaknya sebuah novel bersampul cantik. Nyatanya, itu hanya sebuah buku tulis anak sekolah dasar. Mereka mendorong saya untuk menulis lebih banyak lagi. Dan dari situlah, buku-buku tulis saya beralih profesi.

Menginjak sekolah menengah pertama, hoby itu pun semakin membara. Orang tua memberikan sebuah hadiah notebook karena saya lulus dan masuk kesekolah bergengsi. Alhamdulillah, semuanya perlu disyukuri. Tapi bukan itu yang saya maksudkan. Melainkan, semenjak datang notebook itu datang kegiatan tulis menulis saya semakin lancar. Saya tidak perlu lagi menyakiti diri sendiri dengan memaksa tangan kecil saya menulis. Ya, hal itu sangat tidak efisien. Berapa banyak buku yang harus saya relakan? Berapa banyak bolpoin yang saya habiskan? Bagaimana kalau tulisan itu harus direvisi ulang dan ada konsonan yang salah? Wah, benar-benar memusingkan bukan? Well, masa-masa inilah yang menurut saya sangat menggairahkan. Selepas saya kelas depalan, sudah ada bekisar tiga puluh lima cerita pendek di notebook saya. Dari berbagai judul dan genre.

Berbicara genre dan gaya bahasa. Dulu, gaya bahasa yang saya gunakan adalah gaya bahasa remaja kekinian, Lo Gue End. Dan, genre-genre nya pun masih berbau teenlit. Baru semenjak saya berada di sekolah menengah atas lah saya berani berganti genre dari teenlit menuju metropop, yang dari segi bahasanya pun semakin mendalam. Kadang pun banyak menuai kesulitan dalam penentuan kata. Dan pada masa ini pula saya berani memposting karya-karya saya dalam bentuk fanfiction yang saya titipkan di blog fanfiction yang sering saya kunjungi. Hingga akhirnya, saya pun memberanikan diri pula untuk mempostingnya di blog dan wordpress pribadi saya.

Bukan tantangan namanya jika tidak ada kendalanya. Dalam menulis, dimanapun, kapanpun, siapapun, pasti pernah mengalami yang namanya salah mengeja atau yang sering kita sebut dengan typo. Haduh, itu adalah sesuatu yang sangat sering saya lakukan.
Mungkin ini bisa saja membuat kalian terinspirasi dan ingin menjejalkan diri dalam dunia yang sama dengan saya. Apabila sebaliknya, saya meminta maaf dengan seluruh kekurangan saya. Saya hanya manusia biasa. Kesempurnaan hanya milik Zat yang menciptakan saya.

Jumat, 29 Mei 2015

Hujan | Part 3 [Payung Biru Kami]



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya di 
Part 1 | Dimana Kita Bertemu?
Part 2 | Selamat Pagi Seoul!



Payung biru kami

Udara sangat dingin, membuatku nyaris tak dapat bangun dari tempat tidur hangat ku. Aku mendengar suara derap kaki mendekat. Disusul dengan suara ketukan pintu tidak sabar. Aku tetap tidak bergeming. Membiarkan ketukan itu lama-lama menjadi gubrakan kecil.
“Yakk, Tan bangun. Kau tidak mau kuliah? Kau tidak mau? Baiklah, aku akan pergi dulu.”
Aku terkejut begitu suara langkah kaki kembali terdengar. “Annnddwaaeee...” teriakku.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di ruang makan menemui kakak yang sudah bersiap-siap ingin berangkat. Aku baru saja selesai mandi dan berkemas. Kaka menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Ayo..” katanya.
Kami tinggal di flat milik orang tuaku. Flat sederhana yang tidak mewah dan tidak juga terlalu buruk untuk ditinggali kami berdua. Dengan dua kamar serta perabot klasik yang sangat memadai. Ditambah seorang asisten rumah tangga. Itu saja cukup membuat kakak ku bertahan lama di negara orang ini.
Kakak tengah menyelesai kan tesis nya, dan aku baru saja mulai mengarungi masa universitas ku. Ibuku seorang pegawai negeri sipil, sedangkan ayahku adalah seorang diplomat. Kakak juga tengah belajar tentang Hubungan Internasional dan kelak akan menjadi Duta Besar di KBRI Busan. Kakak memang pintar, berbeda sedikit denganku yang sangat membenci hal-hal berbau logaritma dan angka-angka sulit. Itulah mengapa aku memilih belajar post modern music. Meski begitu, aku tetap saja anak remaja biasa yang kadang juga menjadi emosi tanpa ada sebab-akibat. Mereka menyebutnya, labil.
Mobil kakak memasuki area Yonsei University. Dari sini aku dapat melihat begitu banyak mahasiswa bertebaran di segala penjuru. Kakak membukakan pintu mobilku. Aku turun dan menggendong tas ranselku yang sedikit berat.
“Namamu Tan. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu. Arra?” kata kakak sembari memberiku sebuah buku panduan seputar universitas besar ini.
Aku mengangguk sebelum masuk lebih jauh untuk menelisik seluruh penjuru gedung universitas.  Kakak tersenyum dan berjalan menuju kelasnya. Aku membaca-baca sekilas buku panduan itu. Ada tempat yang menarik perhatianku. Tempat yang menurutku sangat nyaman. Aku tak sabar ingin segera mencapainya.
Aku kembali menelusuri koridor-koridor yang cukup remang untuk pagi hari yang cerah seperti ini. Menaiki anak tangga menuju lantai teratas gedung. Gedung ini memang terbilang lumayan sepi jika di bandingkan dengan gedung yang lainnya. Belum sampai di anak tangga paling atas, aku menghentikan langkahku. Suara petikan gitar membuatku tercengang. Perlahan aku membuka pintu di penghujung tangga. Seorang laki-laki duduk membelakangiku dengan gitarnya. Disekitarnya ada jaket dan sebuah tas punggung tempat kamera. Aku menatap punggung laki-laki itu. Seperti ada sesuatu yang terjadi.
“naui sarangbiga doeeojullae? Sesang eodirado hamkkehallae?”
Deg! Suara itu. Aku seperti terkena serangan mendadak. Suara itu. Lagu itu.
Aku terus menatapnya tanpa berkedip. Mendengarkan alunan kata-kata indah yang ia nyanyikan. Suara beratnya membuatku tenang. Jantungku perlahan berdetak dengan normal. Langitpun mendadak memuntahkan airnya. Seolah melengkapi semua hal yang terjadi saat ini. Laki-laki itu tidak bergeming. Ia tetap diam ditempatnya, tetap memetik senar gitarnya, tetap bernyanyi. Seolah-olah hujan merupakan perkusi yang melengkapi nyanyiannya. Seolah-olah hujan akan membuatnya terlihat lebih tampan. Seolah-olah hujan dapat menghapus semua masalahnya. Seolah-olah hujan dapat mengenyahkannya. Seolah-olah hujan adalah satu-satunya teman baginya.
Aku tertegun melihatnya. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk laki-laki yang bahkan wajahnya saja aku tidak dapat melihatnya. Tapi ada satu yang mungkin bisa aku beri padanya. Aku merogoh tas ku. Mengambil sesuatu yang mungkin dapat melindunginya. Aku membuka payung biruku dan meletakkan di depan pintu sebelum aku pergi.
“Would you be my love rain? Would you be with me anywhere in the world?”
***
Aku berlari-lari kecil melewati koridor. Hari mulai beranjak menuju kegelapan. Matahari sudah di ufuk barat. Tapi aku masih berkeliaran di kampus. Buku sketsa ku tertinggal di kelas menggambar sore tadi. Aku berhasil menemukannya di tempat semula. Tidak ada yang berubah dengan bukuku. Aku kembali membukanya dan tersenyum begitu melihat sketsa punggung seseorang yang tengah bermain gitar ditengah hujan.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu tidak sabar. Seorang gadis menyeruak masuk dengan tergesa-gesa dan terkejut begitu melihatku.
“Ah, maaf. Aku hanya ingin mengembalikan ini.” Kata gadis itu tergagap.
Aku melihat apa yang di bawanya. Sebuah payung biru persis seperti milikku. Aku tertegun. Sedikit kecewa. Kenapa payung yang sengaja aku pinjamkan kepada laki-laki itu kini berada ditangan gadis lain?
“Aku dengar pemiliknya berada di kelas ini. Jadi aku ingin mengembalikannya.”
Aku menutup buku sketsa ku dan beranjak pergi. Gadis itu menatapku ketakutan, terlebih-lebih bungun akan sikapku. Aku tidak pernah peduli bagaimana orang lain menilaiku. Mereka hanya melihatku dari luar. Mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana diriku sebenarnya.
Aku berjalan gontai menuruni anak tangga. Berjalan menuju lapangan basket. Hari ini aku ingin mengerjakan tugas sketsaku dan mengambil basket sebagai modelnya. Lapangan sudah gelap. Udara pun semakin dingin. Lampu-lampu taman mulai menyala dengan indah. Menerangi lapangan walau nampak remang. Aku duduk disudut lapangan, bersandar pada sebuah tiang lampu jalan. Aku mulai mengeluarkan pensilku. Tanganku mulai membuat garis-garis halus. Hening.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mendrible bola. Aku bergeming, menyibak rambut yang menghalangi penglihatanku. Sosok itu semakin mendekat. Ia berlari dan melakukan shoot. Bolanya masuk. Ia melakukan hal yang sama berulang kali tanpa menyadari kehadiranku. Tanganku terpacu untuk membuat siluwet tentang laki-laki itu. Tanganku bergerak dengan sendirinya, seolah hatiku lah yang memerintahkannya. Sayang sekali keadaan disini cukup remang, aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Aku sudah menyelesaikan sketsaku. Sekarang yang aku lakukan hanya mengamati laki-laki itu. Ia berjalan menuju kursi penonton dalam kondisi membelakangiku. Baru saat itu aku tersadar bahwa dia adalah laki-laki yang tadi pagi aku temui. Laki-laki pemilik suara indah.
Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah payung berwarna biru yang sama dengan milikku. Ia membukanya. Padahal malam ini tidak hujan dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Ia melihat sesuatu di gagang payung itu dengan seksama. Astaga. Apa itu payungku? Aku mengingatnya. Di gagang payungku terdapat ukiran namaku. Kakak lah yang mengukirnya untukku. Lalu bagaimana dengan payung yang dibawa gadis tadi?
Aku bergegas merapikan semua peralatan sketsaku, menaruhnya dalam tas. Aku berlari menuju kelas melewati laki-laki itu. Bisa kupastikan bahwa sekarang dia menatapku terkejut sambil kebingungan. Aku masuk kedalam kelas dengan tidak sabar. Meraih payung biru yang terdampar di meja dengan cekatan. Membukanya dan melihat gagangnya. Rain. Benar, payung ini bukan milikku.
“Itu milikku.”



Sabtu, 23 Mei 2015

Hujan | Part 2 [Selamat Pagi Seoul!]



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya di Part 1 | Dimana Kita Bertemu?



Selamat pagi Seoul !



Angin berhembus. Dinginnya menggetarkan tulang belulang ku. Tapi langkah kakiku tak akan pernah goyah menuruni anak tangga pesawat. Inilah momen penting dalam hidupku. Setelah sekian lama belajar dengan giat untuk dapat mengikuti jejak kakak ku. Aku tersenyum begitu angin-angin nakal itu kembali menerpa wajahku. Merapatkan jaketku dan mulai berjalan memasuki Bandara Internasional Incheon.
Seorang laki-laki jangkung menarik perhatianku. Didepan wajahnya ada sebuah papan bertuliskan namaku. Aku mendekatinya dengan ragu. Laki-laki itu menurunkan papannya secara perlahan. Aku dapat melihat mata cokelatnya. Dia. Laki-laki itu punya mata yang sama dengan ku. Dia kakak ku. Kakak laki-laki ku yang sudah sekitar dua tahun tidak bertemu denganku.
Laki-laki itu menghampiriku dan meraih koper yang aku bawa. Ia merangkulku dan menggiringku menuju mobil tanpa berbicara apapun. Dia membuka pintu mobil untuk ku, memasukkan koper ke dalam bagasi, dan setelah itu siap di balik kemudi.
“Selamat datang di Seoul, Tan!” katanya padaku. Ia meraih sebuah kotak yang sepertinya sudah ia siapkan untuk ku. “Hadiah atas kelulusan mu.”
“Kakak, terima kasih.” Kataku seraya menerima kotak tersebut, lantas membukanya.
Isinya sebuah shal yang terlihat sangat hangat. Ia menatapku yang juga menatapnya.
Kakak tersenyum. Ia meraih shal tersebut dan melingkarkannya di leherku hingga menutupi sebagian wajahku.
“Seoul tengah berada di akhir musim gugur, akan dingin sekali.” Katanya.
Aku hanya tersenyum seperti biasa. Kakak juga turut tersenyum melihatku. “Sekarang Tan kakak sudah besar ya? Sudah cantik, sudah dewasa, bahkan tidak mau merengek lagi pada kakaknya.”
Aku hanya bisa nyengir melihat kakakku yang juga semakin tampan. Dia meraih kemudi dengan mantap dan menatapku dengan mantap pula. “Kita mau kemana tuan putri?” tanyanya.
Apa? Bukankah kita? Jangan-jangan ini salah satu rangkaian hadiah yang lainnya dari kakak?
“Ini hadiah karena kau sudah diterima di Yonsei University.” Katanya membuat ku tersenyum lebar.
“Namsan!” jawabku.
“Terbaik untuk adikku!”
Orang-orang berjalan dengan cepat, seolah tak ingin kehilangan waktunya barang sedetikpun. Pohon-pohon ditepi jalan juga banyak yang menggundul. Pernak-pernik musim dingin sudah mulai dipajang disepanjang etalase pertokoan dipinggir jalan. Aku membuka jendela mobil. Mengeluarkan tangan dan kepalaku. Merasakan terpaan dingin angin musim dingin. Aku tidak peduli bila esok aku akan masuk angin atau menggigil. Semuanya akan baik-baik saja selama ada kakak.
“Aku datang Seoul!!” teriak ku. Orang-orang menatapku aneh. Melihatku bak orang gila.
Kakak gelagapan, menyetir sambil menarik tubuhku untuk masuk kedalam mobil. Aku tidak peduli. Aku senang. Aku bahagia. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang membuatku segera memasukan tubuhku dan mencengkeram lengan kakak. Kakak terkejut dan menepikan mobil.
“Ada apa?”
Aku membuka pintu mobil dan berlari mengejar sosok yang aku lihat tadi. Laki-laki itu mengenakan jaket biru dan membersihkan lensa kameranya sambil lalu. Aku jelas-jelas melihatnya. Tapi kakak segera menghentikan ku dan menarik ku kembali ke mobil.
“Aku melihat orang yang aku kenal.” Kataku kaku.
Kakak tersenyum. “Kau bercanda? Ini bukan Indonesia. Mungkin kau hanya berhalusinasi.”
Benar. Ini bukan Indonesia. Mungkin aku salah mengenali orang. Itu saja. Kita hanya bertemu sekali dan mana mungkin aku dapat mengenalinya seolah kita sudah sering bertemu. Setelah itu aku hanya diam. Banyak pikiran dan pemahaman yang berputar di kepalaku. Aku hanya gadis biasa yang menyimpan cinta dalam hatinya. Ya, cinta. Cinta pertama. Cinta yang maya. Cinta yang tidak nyata.
“Tan, sudah sampai.” Aku terkejut begitu kakak membukakan sabuk pengamanku dan menarikku keluar dari mobil. Wajahku mungkin saja kusut.
“Aku jelas-jelas melihatnya.” Kataku masih bersikukuh.
Kakak menghembuskan napas beratnya. “Begitukah? Kalau begitu kita pulang saja.”
Aku menahan lengan kakak. “Ani.” Aku tersenyum dan berlari menaiki bukit namsan.
Udara di atas tower ini benar-benar dingin. Aku bergidik ketika angin berulang-ulang menerpa wajahku. Orang-orang tetap bersikukuh dengan kegiatan mereka, memasang gembok bersama pasangannya. Berharap sesuatu yang indah terjadi dalam setiap hubungan yang mereka jalin bersama terpasangnya anak gembok itu. aku menatap kakak bingung. Dia hanya mengendikan bahunya. Aku tertawa dan kembali menatap langit pagi Seoul yang nampak cerah walaupun dingin.
Burung-burung berterbangan seolah tengah berimigrasi menghindari musim dingin. Pohon-pohon maple memerah merontokan daunnya. Aku menghirup udara dinging sedalam-dalamnya. Menahan semua kelelahanku dalam hati. Mencoba melenyapkan bayangan laki-laki yang dua bulan lalu aku temui. Menepis pikiran rindu kepada teman-temanku.
“Selamat pagi Seoul!!!!” teriakku.
Orang-orang menatapku bingung. Terlebih-lebih dengan bahasa yang aku lontarkan. Kakak menepuk bahuku pelan sambil berbisik.
“Annyeonghaseyo Tan.”

Kamis, 21 Mei 2015

Hujan | Part 1 [Dimana Kita Bertemu?]



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.


Dimana kita bertemu?

Musim hujan benar-benar membuat semua orang memilih untuk bermalas-malasan dirumah. Bersembunyi dalam selimut dan menikmati suasana dingin dengan hangatnya secangkir teh atau sekedar duduk berkumpul bersama keluarga. Aku hanya bisa tersenyum tatkala mengingat semuanya. Sadar bahwa kini aku harus bekerja keras untuk menyusul kakak laki-lakiku di negara orang. Menyisipkan mimpi-mimpiku dalam peraihan cita-cita dan impianku untuk menjadi mahasiswa ditempat kakakku bersekolah.
Aku bukanlah wanita super dengan gen spesial, aku adalah aku. Gadis delapanbelas tahun yang memiliki segunung impian dan cita-cita yang setinggi langit. Aku adalah aku, gadis berkacamata yang menganggap dirinya nothing special without someone special. Aku benar-benar gadis biasa.
Saat ini, aku tengah duduk dengan secangkir teh hangat ditanganku. Menghadap sebuah jendela besar disampingku dan menatap butiran air yang berjatuhan dengan indahnya. Mengapa hujan bisa turun seindah ini? Apa dia tahu bahwa dirinya sangat indah? Alunan music klasik lembut yang diputar disudut cafe membuat ku tersenyum dan hanyut dalam lamunan.
Aku meminum sedikit demi sedikit teh ku hingga cangkir itu benar-benar kosong. Cklik! Aku menoleh menatap suara bidikan itu. Seorang laki-laki membidikan kameranya kearahku. Aku menatapnya tajam. Mengerutkan keningku, mencoba mengirim sinyal kebingunganku padanya. Laki-laki itu tersenyum.
“Posemu sangat bagus. Sayang sekali jika tidak diabadikan. Maaf kalau kau tersinggung. Aku bisa menghapusnya sekarang.”
Aku menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Ambil saja.”
“Terima kasih...” katanya sebelum pergi.
Aku kembali terpaku pada jendela di hadapanku. Mengintip hujan yang semakin riuh. Orang-orang berlari-lari kecil menyelamatkan diri. Apa hujan menyakitkan? Kenapa semua orang harus berlari bersembunyi dari hujan? Kecuali laki-laki itu. oh tidak, dia adalah laki-laki yang beberapa menit yang lalu berada di hadapanku. Apa yang dilakukan laki-laki itu sebenarnya?
Laki-laki itu mengarahkan kameranya ke beberapa titik. Langit, hujan, jalanan yang basah, dan yang terakhir adalah aku. Ia mengarahkan kembali kameranya ke arahku yang berada di balik jendela lalu membidik. Aku hanya bisa diam tak berdaya, terlebih-lebih terkejut. Apakah aku adalah objek yang menarik baginya? Laki-laki itu berjalan mendekat ke arahku dan berhenti di hadapan ku. Hanya kaca jendela besar yang memisahkan kami. Ia menulis sesuatu di jendela kaca yang mengembun didepanku.
“Bila hujan tiba, maka dengarkan lah dakwahnya. Dan, terima kasih atas fotonya.”
Ia membungkuk dan berlalu sambil mengelap lensa kameranya. Kaki ku bergerak hendak mengejarnya. Tapi hanya sebatas bergerak untuk berdiri saja, aku tidak pernah bisa mengejar seorang laki-laki.
Siapa namanya? Seharusnya aku menanyakannya.

Rabu, 13 Mei 2015

Princess | part 1



Jelajahi dunia dengan membaca. Baca apapun yang ingin kau baca. Temukan suatu makna hidup didalamnya. Selamat membaca.



Novender, 100 tahun yang lalu...

Kicauan merdu burung gereja menghiasi pagi di langit Novonder­, sebuah kerajaan kecil—yang kaya dan damai—yang berada di tengah-tengah Eropa. Pagi itu, rerumputan masih basah karena embun. Kuda-kuda milik kerajaan merumput di perbukitan di sebelah barat daya istana. Seorang gadis kecil menunggangi kuda putihnya dengan gagah. Ia menarik tali kekang kudanya, lantas melompat.

Dari atas bukit, gadis itu memandangi sebuah istana besar yang bersebelahan dengan wilayahnya. Wajahnya berubah gembira. Ia selalu mendengar dari para pelayan-pelayan istana bahwa Kerajaan Vlosco adalah kerajaan besar dengan pangeran-pangeran tampan yang selalu menjadi pembicaraan seluruh negeri.

“saat aku besar nanti, aku harus kesana.” Desisnya sambil tersenyum. Matanya menatap tajam ke arah pucuk istana.

***

Seorang laki-laki tampan berdiri di jendela besar istana. Ia menatap tajam pegunungan yang berjajar jauh di hadapannya itu.

“Yang Mulia, Baginda Raja memanggil anda.” Kata seorang laki-laki tua dengan kumis tebal yang memutih.
Laki-laki tampan itu bergerak menuju tempat raja. Ia masuk dan menghadap ayahnya, Raja Jester.

“Ada apa ayah memanggilku?”

“Kau lupa, hari ini kau harus belajar memanah bersama pangeran Vlosco.” Kata ayahnya.
Tiba-tiba seorang gadis menyeruak masuk ke dalam ruangan itu sambil berlari-lari dengan riangnya. Ia memeluk lengan ayahnya.

“Aku ikut. Aku ikut. Aku mau belajar memanah juga.” Rengeknya.

“Rebbeca...” Raja Jester dan Pangeran berucap hampir bersamaan.
Gadis kecil itu kemudian diam. Wajahnya berubah keras, lalu ia menangis dan berjalan keluar dengan gontai. Ayahnya merasa kasihan, begitu pula dengan kakaknya.

“Ayah, aku akan menjaganya.” Kata Pangeran Lord mencoba membujuk ayahnya agar mengijinkan adik tercintanya untuk ikut latihan memanah.

***


Welcome Readers !

Selamat datang di blogger ini..
Blog ini adalah blog pribadi yang dibuat untuk mempublish semua karya tulisku. Daripada menjadi draft yang tidak berguna di laptop, bukankah lebih baik di share?
Semoga bermanfaat ya :)

Salam kenal,
Penulis disini menggunakan nickname Kim Nhara. Mungkin kalian sudah pernah tau Author Kim Nhara di blog atau wordpress Fanfiction.
Disini bukan hanya berisi Fanfiction ya, semuanya ada. Cerpen horor, Fanfiction, Romance, semuanya, kecuali NC oke.

Happy reading, dan selamat bersenang-senang (kalau senang xD)